Di Era Digital, Belicia Shafira Ajak Gen Z Jadi Generasi Kritis, Peduli & Bertanggung Jawab | katamuda.com

Di Era Digital, Belicia Shafira Ajak Gen Z Jadi Generasi Kritis, Peduli & Bertanggung Jawab

Belicia Shafira, Delegasi Aktif International Model United Nations (IMUN)
Di Era Digital, Belicia Shafira Ajak Gen Z Jadi Generasi Kritis, Peduli & Bertanggung Jawab

Jakarta – Di tengah derasnya arus informasi dan tren yang silih berganti di media sosial, generasi muda dinilai memiliki peran penting sebagai agen kontrol sosial yang mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat. Pandangan tersebut disampaikan oleh Belicia Shafira, Delegasi Aktif International Model United Nations (IMUN).

 

Menurut perempuan yang akrab di sapa Cia itu, kontrol sosial di era digital tidak lagi sebatas mengawasi atau mengkritik, melainkan bentuk kepedulian terhadap kondisi sosial yang terjadi di sekitar maupun di ruang digital.

 

"Anak muda memiliki peran penting untuk menjadi pengingat ketika ada hal yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Baik itu di lingkungan sekitar, sekolah, komunitas, maupun di media sosial," ujarnya saat di hubungi redaksi katamuda.com, Selasa (16/6/2026).

 

Ia menilai media sosial telah memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk menyuarakan pendapat dan terlibat dalam berbagai isu publik. Namun di saat yang sama, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru berupa banjir informasi yang belum tentu seluruhnya benar. Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu keterampilan yang wajib dimiliki generasi muda saat ini.

 

"Kontrol sosial juga berarti kemampuan untuk berpikir kritis. Tidak semua informasi yang viral adalah kebenaran. Anak muda harus terbiasa memeriksa fakta sebelum ikut menyebarkan informasi atau memberikan penilaian," tegasnya.

 

Cia menilai fenomena budaya digital saat ini sering kali mendorong seseorang untuk bereaksi cepat tanpa memahami konteks yang utuh. Akibatnya, tidak sedikit opini yang berkembang justru memperkeruh keadaan dan memicu disinformasi.

 

Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi, ia mengajak anak muda untuk memanfaatkan ruang digital secara lebih bijak dengan mengedepankan data, pengetahuan, dan empati dalam menyampaikan kritik maupun pendapat.

 

Menurutnya, kritik yang konstruktif akan jauh lebih berdampak dibandingkan komentar yang hanya bertujuan mencari perhatian atau mengejar popularitas sesaat.

 

"Pada akhirnya, kontrol sosial yang baik bukan sekadar membuat suara kita terdengar, tetapi memastikan suara tersebut membawa dampak positif. Kritik yang disampaikan dengan pengetahuan dan tanggung jawab akan lebih bernilai daripada sekadar komentar yang mengejar perhatian," katanya.

 

Perempuan yang juga aktif di gerakan Pelajar Anti Bullying itupun berharap generasi muda Indonesia dapat terus menjadi kelompok yang aktif, kritis, dan peduli terhadap berbagai persoalan sosial, namun tetap mengedepankan etika serta tanggung jawab dalam setiap tindakan dan pendapat yang disampaikan.

 

"Anak muda bukan hanya pengguna media sosial, tetapi juga penentu arah percakapan publik. Karena itu, gunakan suara yang kita miliki untuk membangun, bukan sekadar meramaikan," pungkasnya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan *.

Loading...
Tidak Ada Komentar